ULASAN START-UP CLINIC MEI 2017 WITH TEMMY SUSANTO (POIEMA STUDIO)

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kembali ke ulasan Startup Clinic JDV Mei ini ūüôā

Kali ini startup clinic menghadirkan Poiema Studio sebagai narasumber sekaligus Startup yang akan berbagi pengalaman dengan pembaca maupun penonton Youtube Channel JDV sekalian. Dihadiri oleh CEO Poiema Studio Temmy Susanto, banyak permasalahan dan tantangan yang akan di sharing-kan pada edisi Startup Clinic Mei ini.

IMG_8240

Pernah jatuh pada awal tahun 2000-an tidak lantas menyurutkan niat CEO Temmy Susanto untuk terus mengembangkan usaha dibidang animasi. Hal ini dibuktikan dengan bangkit kembalinya Poiema Studio yang sempat vakum selama 9 tahun lamanya. Tahun 2008 menjadi tahun dimana CEO Poiema, kembali merintis usaha yang telah mendarah daging dan menjadi passion dalam hidupnya.

Sebelum terjun ke dunia animasi pada akhir tahun ‚Äô90-an, Temmy Susanto terlebih dahulu terjun ke dunia Arsitektur sesuai dengan background pendidikan yang ditempuhnya. ¬†Namun, krisis moneter Indonesia pada tahun 1997 menuntut pada maraknya pembangunan diberbagai daerah yang sekaligus mempengaruhi proyek dan lapangan kerja para arsitek pada masa itu. Pada masa inilah, Temmy Susanto melihat adanya peluang dibidang animasi yang hingga terjunnya ke dunia ini dia katakan sebagai sebuah ‚Äúkecelakan‚ÄĚ. Disebut dengan kecelakan karena tiba-tiba terjadi hal yang tidak dinginkan dan harus segera ¬†berubah haluan ke bidang lainnya.

Sebelum terjun ke Animasi, Mas Temmy sapaan akrab Temmy Susanto bergelut terlebih dahulu ke ranah Autocat karena pada tahun tersebut fitur untuk gambar perspektif belum tersedia. Barulah setelah ini Mas Temmy dan tim bertemu dengan Animasi. Berbekal Anderdos sebaga sarana, Mas Temmy belajar secara otodidak. Belum lagi pengetahuan dan akses informasi yang masih sangat terbatas pada saat itu menjadi tantangan tersendiri.  Selain buku-buku yang masih sangat minim, akses internet pun baru satu hingga dua tahun masuk Kota Yogyakarta sehingga aksesnya masih sangat eksklusif. Beruntungnya pada saat itu, Temmy Susanto tidak kehabisan akal dan akhirnya menemukan buku yang dapat dia jadikan rujukan.

Kurang lebih satu hingga dua tahun menaungi dunia animasi, Poiema Studio akhirnya surut karena kesibukan yang dimiliki oleh masing-masing anggota tim dan mau tidak mau harus rehat selama beberapa waktu. Pasang surut Poiema Studio sebelumnya menjadi semangat tersendiri bagi Temmy Susanto untuk bangkit lagi membangun Poiema Studio.

Dibandingkan dengan otodidak, Mas Temmy dengan pengalaman hidupnya lebih menyarakan kepada pemula untuk memilih belajar dengan kursus atau guru dibandingkan harus belajar otodidak. Meskipun terhitung murah, belajar otodidak menghabiskan banyak waktu bahkan bertahun-tahun lamanya. Jika dibandingkan biaya yang dikeluarkan selama kursus maka waktu yang terbuang cenderung lebih banyak. Belajar animasipun di zaman sekarang tidak hanya terpaku pada hardware yang dimiliki seseorang. Dengan memiliki, hardware sederhana seseorang dapat belajar animasi bahkan setingkat produksi. Hal ini dikatakan Mas Temmy sebagai berkah dari perkembangan teknologi informasi. Banyak software murah bahkan gratis yang kualitasnya sangat baik bahkan untuk tingkat produksi. Sedangkan skills dapat diasah seiring berjalannya waktu. Dengan memegang teguh 12 prinsip Animasi dinyatakan cukup untuk mampu bisa terjun kedunia animasi.

Meski terdengar sangat menarik, kenyataannya, industri kreatif khususnya animasi di Indonesia dapat dikatakan belum berkembang. Anak-anak selama ini masih mengenal animasi macam Pixar, Dreamworks, Illumination, dan Ghilbi. Ini bukanlah hal yang mengagetkan karena sejak kecil banyak anak Indonesia yang sudah ‚Äúdicecoki‚ÄĚ dengan berbagai film animasi luar negeri baik dari Hollywood maupun dari Jepang. Disamping itu, hal ini diperparah dengan kondisi industri animasi di Indonesia yang belum mampu mengejar ketertinggalannya selama ini. Selain masalah manajemen produksi animasi yang dianggap masih amburadul, ekspekatasi yang terlalu tinggi dari investor seringkali menjadi permasalahan yang ada selama ini, dengan arti bahwa ekspektasi yang tinggi sering tidak sebanding dengan dana atau modal yang dikucurkan. Banyak investor yang menyamakan produksi animasi sama dengan tayangan televisi (TV) lainnya, toh keuntungan yang mereka dapatkan juga akan sama. Misalnya produksi animasi dibandingkan dengan produksi tayangan sinetron di Indonesia. Pada fase penulisan jalan cerita dan naskah mungkin masih memiliki alur yang hampir sama, namun ketika memasuki fase produksi akan sangat berbeda. Produksi sinetron memiliki waktu yang relatif singkat dalam proses produksi, asal memiliki talent berbagai hardware dan kru editing maka dapat dipastikan bahwa Sinetron dapat kejar tayang dan langsung masuk ke program televisi. Dengan tayangnya Sinetron tersebut otomatis akan dapat langsung terlihat apakah sinetron memiliki banyak peminat, barulah setelah itu datanglah banyak iklan yang masuk ke televisi dan mendompleng investasi produksi Sinetron. Dapat dikatakan bahwa produksi Sinetron memiliki perputaran investasi yang cenderung sangat cepat jika dibandingkan dengan animasi.

Sedangkan disisi lainnya, produksi animasi memiliki tantangan yang lebih besar. Dimana masa produksi memiliki jangka waktu yang sangat panjang, sumber daya manusia yang sangat besar, hardware dan software yang memumpuni dan resiko produksi yang lebih besar. Belum lagi nanti pada fase penjualan yang seringkali pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran atau investasi yang dilakukan dengan kata lain gap yang dimiliki antara investasi dan keuntungan yang terlalu besar. Tentu saja hal ini akan membuat investor berpikir dua kali untuk memberikan modalnya pada industri animasi di Indonesia. Meski begitu, sebenarnya dengan metode penjualan yang banyak dilakukan di Jepang hal ini dapat menjadi salah satu trobosan bagi produksi animasi untuk dapat survive. Cara yang ditempuh produsen anime di Jepang adalah dengan mengutamakan stasiun TV lokal dan menomorduakan stasiun TV nasional. Cara ini digunakan untuk meminimalisir penjualan yang sedikit karena dengan TV nasional semua orang disemua daerah dapat melihat. Sedangkan dengan mengutamakan stasiun TV lokal maka setiap daerah perlu untuk membeli kembali anime sesuai dengan kebutuhan atau pangsa pasar di daerahnya. Strategi ini tentu akan mendongkrak penjualan produksi animasi dan mampu mencukupi biaya produksi. Salah satu masalah yang dihadapi dari strategi ini di Indonesia adalah industri pertelevisian masih dimonopoli oleh stasiun TV nasional, sehingga memang masih jalan yang sangat panjang untuk mampu mencapai titik dimana sekarang industri animasi di Jepang berdiri.

Banyaknya masalah yang ada dari industri animasi diharapkan tidak jadi penghalang teman-teman sekalian untuk tetap berkarya temukan passion kalian dan kerjarlah. Bila kalian tertarik untuk masuk ke dunia animasi ada beberapa saran nih dari Mas Temmy. Pertama, niat. Tanpa niat bakat maupun akses yang kalian miliki tak akan berguna. Selayaknya mobil yang kehilangan gasnya, sebagus apapun mobil tidak akan bisa berjalan. Sama dengan dorongan dalam diri manusia yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Maka niat adalah modal pertama yang dibutuhkan dalam memasuki dunia animasi. Kedua, adalah kerja keras. Bagaikan mobil yang memiliki gas namun tidak pernah diinjak. Tetap membuatnya tak akan berjalan. Sehingga ketika seseorang tidak hanya mau berjalan ditempat maka seseorang perlu untuk mampu memaksimalkan kemampuan dirinya dengan kerja keras, terutama dalam memasuki dunia animasi di Indonesia. Terakhir, tujuan dan gunakan resources yang ada. Sangat penting bagi kita untuk mengerti dan memahami apa yang sebenarnya kita kerjakan dan untuk apa kita melakukannya. Masih terkait mobil, ketika dia memiliki perangkat lengkap dan kita sudah mampu menginjak gas maka tanpa arah dia akan berjalan tak beraturan dan akhirnya akan menabrak. Sama halnya dengan belajar animasi, ketika niat kita miliki, kerja keras kita punya, skill kita cukup tapi kita tak memiliki tujuan, sama saja kita akan sulit untuk maju dan mencapai apa yang kita inginkan.

Banyak sekali pengalaman yang dapat kita dari CEO Poiema Studio Temmy Susanto. Penasaran bagaimana cerita lengkapnya, Yuk cek segera di Startup Clinic Edisi Mei di YouTube Channel JDV dibawah ini :

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *