5 Alasan Utama Mempersiapkan Diri Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sobat JDV, masih ingat kekuatan sinyal ketika pertama kali kamu menggunakan internet?

Di awal tahun 90 an atau di akhir tahun 80 an, kecepatan internet baru menyentuh 56,6 kbps atau 20.000 kali lebih lambat dari kecepatan rata-rata di smartphone yang kita gunakan sekarang. Bagi kita yang mengalami sendiri sepulang sekolah mengirim file playlist lagu favorit dengan infrared, menyimpan file di disket atau CD, internet merupakan sebuah  penemuan besar. Sampai saat ini, internet bahkan sudah berkembang sebanyak 1000% dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.[1]

            Internet merupakan pintu gerbang sebuah revolusi industri baru setelah mengalami tiga periode industri. Ketika Revolusi Industri Pertama menggunakan tenaga air dan uap untuk memekanisasi produksi, Revolusi Industri Kedua beralih menggunakan tenaga listrik untuk membuat produksi massal. Lain halnya dengan Revolusi Industri Ketiga yang menggunakan elektronik dan teknologi informasi untuk mengotomatisasi produksi. Dengan Internet, Revolusi Industri Keempat atau Revolusi Digital muncul dengan digitalisasi produksi.[2] Revolusi yang lahir pada pertengahan abad terakhir ini kemudian ramai diperbincangkan dengan istilah Konsep Revolusi Industri 4.0 yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, Ekonom terkenal asal Jerman dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution.[3]

Sebagai generasi yang sedang dan akan menghadapi revolusi digital, maka kita harus bersiap sedini mungkin untuk dapat terus survive di tengah persaingan global. Setidaknya ada 5 alasan utama, mengapa kita harus bersiap menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini:

1.Kemunculan Internet of Things (IoT)

Secara sederhana, istilah Internet of Things menjelaskan bahwa benda-benda di sekitar kita dapat terhubung dan berkomunikasi antara satu sama lain melalui jaringan internet.  IoT sangat popular digunakan di dunia bisnis, karena dapat memberikan insight untuk mengetahui perilaku konsumen, operasional usaha, serta produk yang bisa ditawarkan. Dengan begitu, sebuah perusahaan dapat menekan biaya produksi dan dapat lebih mobile dalam proses follow up data.[4]

2. Penggunaan Artificial Intelligence

Artificial Intelligence (AI) sudah mulai diciptakan sejak abad ke 17 oleh para ilmuwan matematika dunia. Namun teknologi AI dipopulerkan kembali oleh Christopher Strachey  dari University of Manchester, United Kingdom, programmer pertama yang menuliskan AI pada mesin Ferranti Mark I pada tahun 1950 an. Saat ini, berbagai bentuk Artificial Intelligence sudah mulai diluncurkan. Mulai dengan Micorosoft yang menciptakan Cortana, Apple mempunyai Siri, maupun Google yang mengembangkan Google Talk. Di Indonesia, AI sendiri sudah berkembang dalam bentuk chatbot atau robot yang mampu mewakili sebuah aktivitas obrolan dua arah.[5]

3. Kemampuan Analisis dengan Teknologi Big Data

Data menjadi mata uang ke dua setelah uang di masa mendatang. Dengan data yang terhimpun dan dimiliki, sebuah perusahaan dapat memberikan pelayananan maksimal, tepat, dan privat bagi pelanggannya. Fenomena Big Data, dimulai pada tahun 2000-an ketika seorang analis industri Doug Laney menyampaikan konsep Big Data yang terdiri dari: Volume, Kecepatan, Variasi, Variabilitas dan Kompleksitas.[6] Dengan Big Data, data internal dan eksternal dapat diolah dan dianalisa untuk memberikan solusi bisnis seperti: Efisiensi biaya dan waktu, pengembangan dan optimalisasi produk hingga pengambilan keputusan.

4. Pergeseran Kebutuhan Skill

Lima tahun dari sekarang, lebih dari sepertiga keterampilan (35%) yang dianggap penting dalam angkatan kerja hari ini akan berubah. Dimulai pada tahun 2020, Revolusi Industri Keempat akan membawa kita ke era robotika canggih, transportasi otonom, kecerdasan buatan bioteknologi dan genomik. Jika kita tidak segera upgrade skill yang telah kita miliki sekarang, bersiaplah jika suatu saat tenaga kita akan tergantikan oleh mesin.[7]

5. Tingkat Keamanan Data di Internet

Dengan semua integrasi data ke internet, maka pengamanan data yg kita unggah pun perlu dipersiapkan. Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara telah menyatakan bahwa saat ini, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keamanan siber masih sangat rendah Dilihat dari Index Security, frekuensi Indonesia diserang peretas masih di atas rata-rata dibanding negara lain di dunia.[8]

Bagaimana dengan Sobat JDV? Sudah seberapa aman kah tingkat keamanan data yang kamu unggah saat ini?

Memang, perkembangan teknologi tidak bisa kita bendung. Mau tidak mau, suka atau tidak, kita akan larut dalam arus kemajuan teknologi di masa mendatang. Kita tidak bisa mundur, tidak bisa pula menyangkal atau menghindar. Meski begitu, Sobat JDV tidak perlu merasa pesimis. Kita bahkan bisa menguasai masa depan jika kita dapat beradaptasi dengan cepat dan terus mengasah diri. Semangat!


[1] Ian Khan, Ted Talk x Mississauga, 1 Agustus 2017

[2] https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-respond

[3] https://www.weforum.org/about/the-fourth-industrial-revolution-by-klaus-schwab

[4] https://www.sirclo.com/blog/2017/07/internet-of-things-dan-dampaknya-terhadap-bisnis

[5] https://www.republika.co.id/berita/trendtek/internet/17/01/18/ojyir0359-mengenal-artificial-intelligence-kecerdasan-teknologi-yang-lebih-komprehensif

[6] https://www.codepolitan.com/mengenal-big-data

[7] https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-the-fourth-industrial-revolution/

[8] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171206162248-185-260555/kesadaran-keamanan-siber-indonesia-peringkat-ke-70-dunia

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *